Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

my room to write

HomeAbout my writingJul 4, 2009
Di waktu luang dari kesibukanku sebagai kuli alias buruh, salah satunya kusempatkan mengekspresikan diri dengan menulis di sini. Bagi diri saya sendiri, apa yang saya tulis ini sangat berarti, saya berharap ada mangfaat bagi anda pembaca tulisan saya.
- - dalam dunia tulis menulis, saya masih pemula, ditambah lagi minimnya waktu dan fasilitas bagi saya untuk menulis, so...Harap maklum atas hidangan yang masih apa adanya ini. Tetapi, tiap ada kesempatan, saya memperbaikinya. - -

Blog EntryMar 2, '10 10:28 PM
for everyone

Sudah menjadi tabiat pikiranku, ia mudah tergoda untuk memikirkan, membahas, ikut berpendapat atas informasi yang tertangkap indraku. Seperti kemarin ketika aku menyaksikan berita di televesi yang membahas poligami. Meskipun pikiranku tidak menyimpan banyak evidensi berkenaan dengan poligami, tetapi tetap saja itu tak menghalanginya berpendapat. “ tengok fakta sejarah,” kata pikiranku,” nabi Muhammad menikah lagi atas sepengetahuan istrinya, tidak mendapat pertentangan dari istrinya, juga beliau melakukan itu bukan atas dorongan nafsu, tetapi wahyu Allah, atas niat baik. Bisa-bisanya mereka  menikah lagi dengan dalih sunnah Rasul dengan cara sembunyi-sembunyi dari istrinya, mendapat pertentangan dari istrinya, bahkan karena wanita yang akan dinikahinya lebih cantik dari istrinya atau bukan kerena niat yang baik. Sehingga, gugurlah bolehnya berpoligami bagi mereka yang tidak atas sepengetahuan, mendapat pertentangan istrinya, dan bukan atas niat yang baik. Seperti gugurnya halalnya makan karena yang dimakan bukan haknya atau diharamkan oleh Allah, karena aktivitas makan melebihi batas kehalalan alias sampai kekenyangan, dan sebagainya.”

Selain itu, meskipun fakta yang dimiliki pikiranku minim sekali, tetap tidak menghalanginya ikut nimbrung. Misalnya, berkenaan dengan maulid nabi Muhammad, ada yang menganggap adalah bid’ah merayakan, dan ada yang tidak. Seperti ini pandangan pikiranku: “ lho…bukankah merayakan maulid nabi Muhammad itu hanya budaya, bukan ibadah ritual. Budaya yang di dalamnya terselip doa, sholawat, dan sebagai salah satu moment silaturahmi. Bukankah bid’ah budaya itu boleh, yang tidak boleh kan bid’ah ibadah ritual dari yang telah diajarkan, contohkan rasul Muhammad, bertentangan dengan yang ditetapkan Allah. Misalnya, Rasul menyembah Allah dengan mengerjakan sholat, maka, adalah bid’ah yang tidak boleh meyembah Allah dengan cara yang berbeda dari cara yang dilakukan Rasulullah. Selain itu, bid’ah yang tidak boleh adalah menambahi atau mengurangi syarat, rukun, aturan beribadah dari yang telah di diajarkan, contohkan rasul Muhammad, bertentangan dengan yang ditetapkan Allah.”

Untuk informasi yang disodorkan indraku, terkadang pikiranku mengabaikan, tidak ia bahas, namun ia simpan saja di gudang memori. Tetapi, tidak kubiarkan pikiranku mengabaikan masalah berkenaan dengan hatiku. Aku sangat menyadari posisi hatiku, ia adalah raja. Perilakuku akan baik jika kondisi raja baik atau sehat. Sebaliknya, sangat berpotensi aku berperilaku tidak baik, tercela, jahat, jika kondisi hatiku bermasalah alias sakit, apalagi mati. Kusadari juga bahwa akan menjadi beban pikiranku akibat perilakuku yang tidak baik karena dorongan hatiku yang bermasalah, oleh sebab itu, pikiranku kuperintahkan sedini mungkin mereduksi masalah hatiku. Agar pikiranku bisa menjadi penasehat yang baik bagi hatiku, kugalakkan pikiranku untuk senangtiasa menuntut ilmu mengelola hati, tidak kuijinkan pikiranku bermalas-malasan akan hal ini. Pikiranku harus piawai mengarahkan keinginan hatiku, meredam gelisahnya, dan membangkitkan semangatnya.

Demikian hatiku, ia tidak boleh hanya mengandalkan pikiranku. Ia harus terampil menjaga diri, terlatih mengelola keinginan. Hatiku harus terbiasa dengan ilmu yang kuajarkan, yakni ilmu karakter baik dan karakter kuat. Sehingga tidak mudah bagi setan maupun iblis menipunya, menelusupkan niat hina, tercela, kotor, licik. Dengan demikian, perilakuku menjadi sarat ibadah, mangfaat, nilai-nilai ibadah; bibirku akan jauh dari cemberut; masalah tidak lagi dianggap sebagai beban tetapi ladang ibadah; mulut pun jauh dari berkata kotor dan sia-sia; mata pun menjadi terkendali pandangannya; serta pikiran pun menjadi lebih jernih sehingga prestasi lebih cepat teraih.

Pernah suatu ketika aku meminjam pikiranku untuk merenung, memahami apa itu pikiran. Kudapati, bahwa pikiran itu mahluk yang demokratis dan loyal kepada keinginan hati. Jika ada keinginan dalam hati, pikiran akan langsung bekerja berpikir merumuskan, memberikan gambaran, opsi-opsi bagaimana keinginan itu bisa tercapai. Pikiran tidak pernah menolak untuk tidak menjawab keinginan hati. Tetapi jika hati lebih memilih keinginannya sendiri dan mengabaikan opsi-opsi yang disodorkan pikiran, pikiran tidak kecewa, tidak ngambek. Bagi pikiran yang penting sudah berusaha memberikan apa yang terbaik yang ia mampu, selebihnya terserah hati. Pikiran tidak bisa merasa, pikiran hanya bisa lelah, jika ia lelah cirinya adalah stres. Aku tidak tahu apakah sifat loyal dan demokratis pikiran kepada keinginan hati ini berlaku umum atau hanya pada pikiranku sendiri.

Tidak cuma menggunakan pikiranku, juga menggunakan hatiku. Aku kagum pada kerja hati dan pikiran, dan lebih terkagum lagi membayangkan dan merasai perilaku seseorang yang memiliki hati dan pikiran yang sehat, damai, dan bersih. Sadar akan pentingnya kesehatan mereka berdua, dan sangat menyadari bahwa yang banyak tahu seluk-beluk mereka adalah Sang Pencipta mereka. karena itu, adalah sombong dan tidak sempurna usaha merawat, mengembangkan potensi tanpa dibarengi memohon bimbingan, pertolongan kepada Tuhan, Pencipta hati dan pikiran, Pencipta alam semesta.

How about you?



Blog EntryFeb 24, '10 8:36 PM
for everyone

Tidak sulit lagi bagi saya mengarang cerita. Saya tinggal membayangkan sosok karakter tertentu, kemudian menghadapkannya pada suatu situasi atau masalah. Maka akan berterbanganlah gambaran perkiraan bagaimana dia mensikapi masalah atau situasi itu. dan dengan lincah tangan saya menari menulis mengikuti gambaran cerita yang mengalir dalam pikiran saya.

Demikian dalam menulis puisi. Saya mengawalinya dengan memikirkan suatu situasi atau masalah dan siapa saja tokoh  yang ada dalam situasi atau masalah itu. dari cerita yang terbayang dalam batok kepala saya itu, saya pilih detail-detail penting atau utama, kemudian merangkainya. Agar puisi yang saya buat itu bercita rasa, berdaya imajinasi, menyentuh emosi, dan cantik, tiada upaya lain selain menggosok dengan metafora.

Sebenarnya saya kurang suka menulis puisi. Tetapi karena sering waktu yang saya miliki tidak cukup untuk menuangkan cerita yang bergelanyut di kepala saya, saya mengisi waktu yang sempit itu dengan membuat cerita yang ingin saya tulis itu menjadi puisi. Untuk menulis puisi saya cuma perlu waktu 3 sampai 10 menit, sedangkan untuk membuat narasi 20 sampai 60 menit. Agar saya tidak lupa akan cerita yang saya tulis itu, sehingga di lain waktu bisa saya tuangkan, maka saya mengemasnya berbentuk puisi. Karena itu, puisi yang saya buat tampak seperti cerita mini. Dengan kata lain, puisi yang saya buat adalah bibit cerita yang siap tumbuh berbuah menjadi karangan cerita kapan saya punya waktu menaburkannya di ladang.

Jika saya memiliki waktu untuk menulis, untuk bisa lancar menulis, saya harus melakukan pemanasan otak terlebih dahulu, merangsang kerja berpikirnya. Jika tidak, maka sedikit sekali gambaran cerita yang diproduksi pikiran saya alias lambat menemukan cerita. Jika sudah demikian, kertas atau layar komputer lama kosong melompong memandangi saya bengong menanti pikiran terisi inspirasi. Pemanasan yang biasa saya lakukan adalah membaca buku, chatting, atau berselancar menyelami blog karya tulis teman-teman di dunia maya. Aneh memang, cerita apa yang terbayang  dalam otak saya untuk ditulis bisa berseberangan jauh dengan apa yang dibahas pada bacaan yang saya selami atau berbeda dengan yang saya obrolkan dengan teman, tetapi inilah kenyataannya, melakukan pemanasan otak seperti yang saya sebutkan itu membuat pikiran saya berkerja dengan memuaskan menemukan bahan-bahan untuk ditulis.

Jujur saja, meski lebih dari satu kali saya dianugerahi cukup waktu untuk menulis dan ide menarik, tetapi kenyataannya itu banyak menjadi tidak berarti karena kekalahan saya melawan rasa malas. Karena itu, bagi saya untuk produktif menulis, selain harus pandai merangsang otak, juga mesti piawai mensiasati kemalasan. Saya mesti punya jurus-jurus jitu untuk menangkis serangan rasa malas.

Jurus yang saya miliki untuk melawan rasa malas, salah satunya adalah tahu mangfaat menulis, dan kerugian tidak menulis. Semakin luas pengetahuan tentang itu, semakin besar potensi atau kekuatan yang dimiliki untuk menekan munculnya kemalasan: tidak mungkin seseorang melalaikan waktu sholat atau ogah-ogahan melaksanakannya jika ia tahu betapa besarnya mangfaat sholat dan kerugian melalaikan sholat.

Menulis itu sehat, itu mangfaat yang saya tahu. Saya mengibaratkan menulis itu seperti membebaskan pikiran dari sampah. Ups…dengan saya mengatakan demikian semoga tidak ada yang gregetan, naik pitam, marah, dan ingin melempar muka saya dengan tomat atau telur busuk. Begini, sampah itu identik dengan berserakan, mengganggu, amburadul, bikin suntuk, dan perlu sentuhan-sentuhan kreatif untuk menjadikannya sesuatu yang aman, berkualitas, atau bernilai guna. Tidak jarang orang dibikin stres oleh idenya sendiri; batinnya terusik oleh inspirasinya; hal-hal yang mengganggu pikiran membuat stres dan suntuk itulah saya mengibaratkan dengan sampah pikiran, jika tidak dikeluarkan sampah itu akan membahayakan pikiran, kerja berpikirnya jadi terganggu. Dan anda tahu, stres itu juga bisa berakibat sakit mag, dan memicu munculnya ganngguan kesehatan atau penyakit lain. Saya tidak berkata menulis itu membuang, tetapi mengeluarkan. Keluarkan ide-ide, inspirasi, uneg-uneg, gagasan yang berkecamuk, berserakan, yang mengganggu pikiran anda biar fresh pikiran anda. Kemudian, tata sampah itu, beri sentuhan-sentuhan kreatif, sehingga menjadi bernilai dan aman untuk dikonsumsi otak anda lagi dan bermangfaat bagi yang lainnya.

Menulis sampah atau buruk itu mengeluarkan untuk menjadikan pikiran kaya akan ide-ide yang baik dan tertata, itu yang saya rasakan. Juga yang saya alami, ia membuat saya menghasilkan banyak tulisan dengan waktu yang tidak terlalu lama. Bisa saja saya menulis yang baik, langsung tertata, sistematis, tetapi itu membuat saya banyak buang waktu untuk berpikir, sedangkan waktu yang saya miliki untuk menulis tidak banyak, dan saya punya kewajiban pekerjaan lain yang harus saya tangani. Lebih baik saya menulis sampah atau buruk, menuangkan apa saja yang melintas di kepala saya: tulisan sampah atau buruk bisa diolah menjadi bernilai, tetapi tulisan baik yang tertahan di kepala tak bisa dikata bernilai.

Sekarang ini yang tidak mudah bagi saya adalah menulis esai. Saya merindukan bisa menulis esai se-berbobot karya bang Emha Ainun Nadjib ( selain A.S Laksana, penulis idola saya cak Nun ). Saya suka dengan prinsip menulisnya cak Nun, ia menulis bukan untuk menempuh karier sebagai penulis, melainkan untuk keperluan-keperluan sosial. Dari tangannya terlahir esai-esai yang tidak saja indah, lebih dari itu memberikan pencerahan, silaturahmi, kemesraan budaya, empati masyarakat, peneguhan nasionalisme. Prinsip saya menulis pun tidak jauh beda dengan cak Nun, sebagai wujud rasa syukur dikaruniai kegemaran menulis, untuk silaturahmi, berbagi pemikiran, dan memberikan nilai yang saya peroleh untuk disalurkan untuk yayasan yang mengurusi anak-anak yatim-piatu, hingga akhirnya saya tidak akan mengambil serupiah pun nilai dari tulisan saya. Inilah motivasi yang membuat saya bersemangat untuk menulis, untuk bisa menulis. Semoga asaku sampai…




Blog EntryFeb 22, '10 8:24 PM
for everyone


aku rindu punggung tangan ibuku
rindu bibir ini mengecupnya


aku rindu akan sebuah rumah
di mana selalu kulihat senyum ibuku

aku rindu...
hanya rindu yang baru kubisa


maafkan aku bu!
anakmu belum bisa berbuat banyak untukmu


Blog EntryFeb 21, '10 8:58 PM
for everyone


Kusangka titik
Ternyata koma


Tiada titik di luar
Dalam jiwa ia bersemayam


Titik bahagia
Titik sedih
Titik...
Banyak titik dalam jiwa


Titik mana yang akan berpijar
Bergantung bagaimana diri ini bercerita





Blog EntryFeb 21, '10 7:10 PM
for everyone


hanya oleh matamu
perasaanku terhanyut dalam beningnya
ingin selamanya hatiku tenggelam menyelam dalam matamu
tidak perlu kau katakan
tatapanmu telah menyatakan
rasa itu



mulutmu memang terkunci
tetapi hatimu bicara
bahasa cinta
tidak selalu lewat bibir


diammu tak kan mampu membelenggu hatimu
hatimu akan terus teriak
sampai engkau lelah kalah
hingga rasa itu sampai


berlarilah
menjauh
bila kau sanggup
melenyapkan rasa itu

lawanlah
ikat yang kuat
rasa itu
bila kau bisa


bila kau tiada sanggup
dan memang kau tiada akan sanggup
maka,
biarkan rasa itu mengalir
menggapai cintanya


rasa itu ada
tiada perlu kau mengelak
atau kau akan ditertawakan hatimu sendiri




Blog EntryFeb 20, '10 11:04 PM
for everyone

Daerah tinggal saya yang tergolong desa terpencil, tiga tahun lalu mulai tersentuh aliran listrik. Dusun saya pun di malam hari tidak lagi di tertawakan oleh bintang-bintang, bahkan bintang-bintang mulai iri karena di malam hari dusun saya memancarkan cahaya lebih terang dari mereka. Tetapi setahun kemudian, mulai sering muncul pemadaman di malam harinya. Alasan yang saya dengar macam-macam, mulai untuk perawatan, ada trafo yang rusak, dan sebagainya.

" berapa kali dalam sebulan listrik padam?" tanya seorang berpakaian rapi bersih dan bersepatu mengkilap pada saya yang lagi asyik ngobrol di warung kopi bersama rekan-rekan saya. Saya tidak tahu ia petugas dari perusahaan listrik atau wartawan, yang saya tahu ia masuk ke dusun kami membawa mobil sedan bagus yang belum ada dan tidak ada warga di dusun saya yang memiliki mobil seperti itu. Selebihnya saya tidak tahu siapa dia.

" dua belas sampai tujuh belas kali," Kata saya sambil menyemburkan asap rokok ke udara.

" padamnya sepanjang hari atau setengah hari saja?"

" hanya di malam hari, selepas sholat isya' paling sering," Sahut salah satu rekan saya.

Setelah kedatangan orang itu, saya pikir di dusun saya akan bersinar seperti bintang di tiap malam seperti ketika listrik baru masuk di dusun saya. Tetapi, sampai beberapa bulan ini, setiap matahari mulai melambaikan tangan di ufuk barat, saya dan warga di sini masih harus melakukan ritual menyiapkan lampu minyak di bebarapa bagian sudut dari rumah kami.

Beberapa minggu terakhir ini, dada saya sering sakit, nyeri dan sesak. Ketika saya periksakan ke puskesmas, petugas yang memeriksa saya bilang ini karena asap lampu minyak. Memang sering saya jumpai ada membekas asap hitam memoles di ujung hidung saya di atas bibir ketika bangun pagi, seperti kumisnya Jojon. Bahkan ketika ngupil, yang di dapat ujung jari yang merogoh lubah hidung, bukan saja upil yang di dapat, juga asap hitam yang menempel. Sekarang pun saya jadi sering ngupil, saya tidak peduli orang mengatai jorok, yang penting hidung saya bersih. Kujumpai juga, salah seorang guru memerintahkah muridnya agar rajin memeriksa, membersihkan asap yang menempel di lubang hidungnya. Jika orang tua si murid menanyakan hal itu pada guru tersebut, si guru mebantah menyuruh muridnya ngupil, tetapi yang guru suruh mebersihkan lubah hidung dari asap yang menempel. Guru yang cerdas, tertawa saya dalam hati.

Kata petugas puskesmas, jika hendak tidur, sebaiknya lampu minyak dimatikan. Tetapi saya orang yang tidak bisa tidur dalam ruangan yang gelap gulita, harus ada penerangan meski kecil. " saya paling takut sama gelap dok..." kata saya malu, tetapi membuat dokter petugas puskesmas itu tertawa ngakak. Kemudian si dokter menyarankan saya agar membeli lampu minyak yang bebas asap.

" di mana dok?"

" di pasar barang antik," ia pun menunjukkan pada saya sebuah lampu minyak miliknya," beli yang seperti ini."

Hari itu, mumpung lagi tidak ada kerjaan dan cuaca tidak panas, saya berencana membeli lampu minyak tersebut. Jarak ke pasar barang antik 5 kilometer. Biasanya untuk jarak kurang lebih segitu, saya pinjam sepeda motor tetangga, tetapi akhir-akhir ini saya lebih memilih menggunakan sepeda dayung. Itu karena hati saya terpanggil untuk ikut berpartisipasi dalam mencegah pemanasan global. Saya mengibaratkan bumi saat ini seperti dada saya yang lagi nyeri dan sesak tercemar asap.

Tidak ada jalan lain yang bisa saya lewati untuk sampai ke pasar barang antik selain jalan beraspal yang kian lama melahirkan lubang baru itu. Setiap melewati jalan itu, saya selalu teringat janji beberapa wakil rakyat dan beberapa orang yang kini duduk di jajaran pemerintahan saat berkampanye dulu. Kata mereka, jalan ini akan dibuatnya mulus jika masyarakat di dusun saya memilihnya. Yang terakhir, seorang yang kini menjadi wakil rakyat, janjinya lebih dari itu, banyak hal yang oleh dia katanya akan dibikin gratis, saya sampai ngeri mendengar janjinya. Saya ngeri membayangkan dia disiksa malaikat di neraka kelak karena begitu banyak janjinya yang tidak lain hanyalah membohongi masyarakat.

Pernah masyarakat karena kesal kepada mereka yang melalaikan janji membikin mulus jalan itu, warga mengganti nama jalan itu dengan nama 'Jl. Baju Tentara '. Ketika itu warga bergotong-royong mengubur lubang-lubang jalan yang menganga itu. Setelah selesai nampak perpaduan warna coklat tanah yang menutup lubang-lubang dengan warna hitam aspal jalan seperti motif baju tentara. Melihat perpaduan warna yang terbentuk itulah akhirnya banyak dari warga yang berinisiatif mengubah nama jalan trsebut sebagai kritikan. Kemudian salah seorang warga mengundang salah seorang wartawan dan mengatakan bahwa telah di resmikan nama jalan baru. Dari dimuatnya berita itulah, sempat bikin panas mereka yang pernah berjanji mau bikin mulus jalan itu. tetapi, akhirnya itu cuma menjadi wacana, begitu meredup berita tentang itu, meredup pula nasib jalan di dusun saya.

Setiba di pasar barang antik, saya sempat istirahat sebentar di tempat penitipan sepeda dayung. Belum kering peluh menepel di badan saya, datang menghampiri saya seorang lelaki." ada yang bisa saya bantu?" kata lelaki itu, ramah.

Saya pun mengatakan maksud saya datang ke pasar itu. Lelaki itu mengatakan bisa membantu saya. Saya pun diminta mengikutinya. Pikiran saya mengira lelaki itu adalah sales yang proaktif mencari pembeli. Sesekali langkahnya terhenti menunggu saya yang tertahan desak-desakan ramainya pengunjung dalam pasar. Tidak lama, sampailah saya di toko yang menjual beraneka jenis lampu minyak. Toko itu cuma di jaga oleh satu orang.

" silakan pilih," kata lelaki yang mengantar saya.

Tidak lama, saya pun menemukan lampu minyak seperti yang bu dokter miliki.

" ini berapa?" tanya saya pada lelaki yang mengatar saya, tetapi lelaki itu malah melempar tanya ke penjaga. Saya tidak curiga, saya kira lelaki itu tak mau tahu menahu masalah harga, tugasnya hanya mencari pembeli.

" 90 ribu," kata penjaga itu. Harga yang tidak bisa di tawar lagi. Saya pun membeli dua.

Uang kembalian 20 ribu dari dua ratus ribu yang saya bayarkan, sebenarnya sebagai wujud terimakasih saya pada lelaki yang telah memudahkan saya menenmukan apa yang saya inginkan, saya hendak memberikan uang itu padanya. Tetapi, lelaki itu lebih dahulu meminta komisi pada saya sepuluh ribu. Akhirnya saya mengerti bahwa ia bukan sales toko itu, apa yang ia lakukan hanya untuk mendapatkan sebuah komisi. Akan tetapi, saya tidak suka dengan caranya, kenapa tidak disampaikan dari awal bahwa ia mau mengantar dengan syarat diberi komisi. Seandainya ia menyampaikan dari awal, saya pasti akan memberi lebih dari komisi yang diminta. Apa yang ia lakukan bagi saya tak ubahnya menodong secara halus atau menjebak.

Dalam perjalanan pulang dari membeli lampu minyak itu, batin saya diselimuti rasa keprihatinan: ternyata jebak menjebak seperti yang banyak dilakukan untuk mendapatkan posisi di jajaran pemerintahan maupun sebagai wakil rakyat dengan janji-janji, ternyata jebak menjebak juga sudah menulari sebagaian rakyat kecil...



Blog EntryFeb 20, '10 12:22 AM
for everyone

Manusia punya rencana, tetapi kepastian hanya milik Tuhan: saya berniat untuk merantau seminggu lagi, tapi rencana itu harus saya tunda karena kecelakaan lebih dahulu menghampiri saya. Ceritanya, ketika mengantar kedua keponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dengan mengendarai sepeda motor, di tengah perjalanan, tanpa saya sadari datang mobil dari arah berlawanan melanggar lampu lalulintas dan memotong jalur saya. Antara kaget dan ingin menghindari tabrakan, seketika tangan dan kaki saya mengoperasikan tuas dan pedal rem.


Tabrakan dapat saya hindari, tapi mungkin karena saya terlalu kuat menekan pedal rem sehingga sepeda motor yang saya kendarai oleng, terseret, dan tanpa saya sadari terbuat luka pada beberapa titik tangan dan kaki saya akibat benturan dan gesekan dengan jalan.

Saya hiraukan tangan dan kaki saya yang mengucurkan darah, saya abaikan rasa sakitnya, saya biarkan juga sepeda motor yang saya kendarai tergeletak di tengah jalan. yang saya pikirkan hanya kedua ponakan saya itu. Keponakan saya yang satu saya lihat hanya mengalami luka lecet sedikit pada sikunya, dan saya minta ia berjalan menepi. Keponakan yang satu lagi hanya diam duduk selonjor, saya pikir kakinya patah, segera saya angkat ia kepinggir jalan.

Tidak lama kemudian, datang menghampiri kami seorang bapak yang saya taksir umurnya sekitar tiga puluh limaan, ia menawarkan bantuan untuk mengantarkan kedua keponakan saya kerumah sakit dengan mobilnya. Saya tidak mengenal bapak yang menawari bantuan itu, saya hanya menyangka bapak itu sedang menuju ke tempat kerja yang kebetulan mendapati kami kecelakaan dan ingin menolong kami. saya persilakan bapak itu mengantarkan kedua keponakan saya itu." mas selasaikan dulu urusan ini dengan mereka, dan nanti mas bisa menyusul kerumah sakit," perintah bapak yang hendak mengantar kedua keponakan saya kerumah sakit pada saya. tidak ada prasangka jelek di hati saya pada bapak itu, tetapi saya tetap waspada, saya perhatikan saja ciri-ciri mobil yang dipakai bapak itu dan nomor kendaraannya. Mengingat hal itu saya rasa cukup membantu jika bapak itu ternyata diluar yang saya duga sebelumnya.

" STNK ( surat tanda nomor kendaraan ) dan SIM ( surat izin mengemudi ) anda," tanya pak polisi yang menengahi tabrakan itu pada saya setelah pak polisi itu melakukan hal yang sama pada pengendara mobil yang khilaf itu. Setelah saya serahkan STNK dan SIM saya, segera pak polisi itu dengan dibantu dua orang polisi melakukan olah TKP ( tempat kejadian perkara ). Tidak lama kemudian, saya dan pengemudi mobil yang khilaf itu diminta oleh polisi itu untuk bersamanya ke kantor polisi. Belum sampai di kantor polisi, entah kenapa, polisi yang mengajak saya ke kantor polisi itu meminta saya pergi kerumah sakit di mana kedua keponakan saya di sana, " mas lihat bagaimana kondisi keponakan anda, nanti kembali lagi ke kantor polisi."

Informasi yang tertangkap telinga saya, bapak yang menolong kedua keponakan saya itu akan merujuk ke rumah sakit Prima Medika ( PM ). Tidak seperti biasanya saya main jalan saja, sering berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan bertindak. Tapi, kali itu saya langsung saja menuju ke rumah PM, padahal jelas tidak masuk akal kedua keponakan saya di bawa sampai sejauh itu, kurang lebih berjarak 17 Km. Setelah memakan waktu setengah jam lebih, sampailah saya di rumah sakit PM, dan ternyata benar, keterangan dari bagian informasi rumah sakit PM yang saya terima, tidak ada kedua panokan saya datang ke sana.

Menuju ke tempar parkir di halaman samping rumah sakit PM, dengan langkah pincang, pikiran saya menerawan kemana-mana," di rumah sakit mana ya kedua keponakan saya dibawa?..." Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kantor polisi. Tetapi di tengah perjalanan menuju ke kantor polisi, tiba-tiba," Bali Medika...Ya..rumah sakit Bali Medika ( BM )," kata pikiran saya. Seketika senyum saya mengembang dan tidak jadi ke kantor polisi dan memutuskan ke BM. Saya begitu yakin kedua keponakan saya ada di BM, mengingat jarak BM adalah terdekat dari rumah sakit lain dari TKP, dan namanya terdapat unsur Medika seperti informasi yang telinga saya tangkap dari bapak yang menolong kedua keponakan saya.

Ternyata benar, kedua keponakan saya ada di BM. sudah ada di sana juga kedua orang tua keponakan saya, dan pengemudi mobil yang khilaf itu. Tetapi tidak saya jumpai bapak yang mengantar kedua ponakan saya itu, kata orang tua keponakan saya, ia permisi pergi tidak lama setelah mereka sampai di rumah sakit." bapak itu baik sekali," kata ibu dari keponakan saya.

Singkat cerita, di kantor polisi, pengemudi yang khilaf itu mengakui kesalahannya. Dia juga bersedia bertanggung jawab biaya pengobatan akibat ulahnya. Tetapi kedua orang tua keponakan saya lebih memilih membiayai sendiri pengobatan anaknya." dia cuma buruh, yang penting dia sudah mengakui kesalahannya dan punya iktikad baik," bisik orang tua keponakan saya pada saya. Meskipun saya punya hak untuk meminta ganti rugi pada buruh itu, sama seperti sikap orang tua keponakan saya itu, saya tak tega, ia sudah mengakui kesalahannya dan ia punya iktikad baik. Tetapi mungkin ceritanya akan lain jika ia tetap ngotot menyebunyikan kesalahannya.

Waktu itu si pengemudi yang khilaf itu tanya saya, berapa ganti rugi yang seharusnya ia bayar. Saya ingin tahu, berapa menurutnya ganti rugi yang pantas untuk menebus kesalahannya." terserah anda," jawab saya. Si pengemudi yang khilaf itu tampak berpikir cukup lama.

" bagimana jika 200 ribu?," kata si buruh.

Saya menjawabnya dengan mengangguk.

Begitu urusan kami selesai, polisi pun tidak meperpanjang lagi, dan mengembalikan surat-surat kendaraan dan SIM kami yang disitanya.

Di pinggir jalan, di depan kantor polisi, saya melihat suasana yang mengharukan. Dari seberang jalan, saya lihat si pengemudi itu meminjam uang pada dua buruh temannya yang menunggu di mobil. Masing-masing buruh tampak memeriksa dompetnya, merogoh saku celana baju dekilnya,tiap kantong, mengeluarkan berapa saja uang yang tersalip di dalamnya. Kulihat ada ribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, tak kulihat lima puluh ribuan. Yang saya tahu itu hasil jualan ketela pagi hari sebelum akhirnya berurusan dengan saya.

" setelah uang itu di berikan, kembalikan lagi," bisik ayah keponakan saya pada saya.

" lain kali hati-hati bawa kendaraan," pesan saya pada pengemudi yang khilaf itu sambil menolak uang yang diberikan pada saya. Terlihat senyumnya langsung mengembang dan ucapan terimakasih pada saya dalam bahasa jawa meluncur tidak sekali dari mulutnya.

Pelajaran hari itu, tidak membela diri atas kesalahan diri, dan ada iktikat baik untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya, maka masalah pun tidak akan berlarut-larut, dan masalah pun menjadi ringan.


Blog EntryFeb 18, '10 11:20 PM
for everyone


tidak pernah ada keluhan sebelumnya, tiba-tiba pagi itu ketika baru selesai menata barang dagangannya, pemilik toko mebel diomeli pembeli meja belajar lipat yang datang kemarin.

" gimana nich pak,"kata pembeli dengan marah sambil menunjukkan bagian tempat duduk dari meja belajar lipat yang patah," kata bapak kuat, berkualitas, kenyataannya...pokoknya saya minta ganti."

Penjual itu mengamatinya sekali lagi, kemudian menggantinya dengan yang baru.

Tetapi keesokan harinya, pembeli itu datang lagi dengan keluhan yang sama. Kali ini, si penjual tidak mau mengganti dengan yang baru begitu saja.

" saya tidak percaya akan sampai rusak seperti ini jika yang memakai adalah anak bapak yang masih berumur tujuh tahun seperti yang bapak bilang itu?" kata si penjual agak keras," saya tidak akan mengganti dengan yang baru lagi, saya ingin bapak membawa anak bapak kemari, saya ingin tahu apakah meja belajar lipat yang saya jual memang tidak berkualitas atau anak bapak yang salah memakainya?"

Si pembeli pun menyanggupi. Dengan raut muka yang tampak kesal ia berlalu pergi meninggalkan toko.

Lagi, pagi-pagi sekali si pembeli itu sudah datang, ia datang dengan membawa kendaraan truk. Tetapi si penjual tidak melihat si pembeli membawa seorang anak pun. Si penjual langsung menghampirinya.

" mana anak bapak?" tanya si penjual.

" itu di bak belakang, bantu saya menurunkannya!" kata si pembeli sambil melangkah menuju kebagian belakang truk, dan si penjual mendampinginnya.

Setelah mereka berdua membuka pintu bak truk, dan melihat siapa yang ada dalam bak itu, si penjual langsung tertawa ngakak dan menggaruk-garuk kepala beberapa saat, kemudian berkata," bagaimana tidak patah, lha yang duduk anak gajah, " si penjual tertawa ngakak lagi, kemudian meneruskan," jangankan meja belajar lipat ini pak, ban becak pun pasti pecah jika yang naik anak bapak."



Blog EntryFeb 12, '10 10:51 PM
for everyone

Umurku sekarang 500 tahun. 400 tahun yang lalu aku pernah dimasukkan dalam penjara bawah tanah. Tangan dan kakiku diikat rantai besi yang kuat dan erat. Menurut mereka aku memiliki tingkah laku yang menyimpang, kejam, sadistis, dan sangat tidak normal. Sebagian masyarakat menganggap aku kemasukkan roh-roh jahat. Untuk menghilangkan roh-roh jahat itulah aku dimasukkan dalam penjara.

Dan sebagian yang lain menggolongkan aku dalam kaumidiot savant, yakni kaum cerdik pandai yang luar biasa pandainya, namun bersifat idiot, atau mengidap defisiensi mental secara total sehingga tingkah lakuku aneh-aneh dan sadis. Tetapi tetap saja sebagian masyarakat yang kedua ini sepakat untuk memenjarakanku.

Meski aku dipenjara, masyarakat tetap meperlakukan aku dengan baik. Itu karena aku banyak berjasa pada mereka. aku adalah ilmuwan, dengan kecerdasanku, aku banyak menciptakan alat-alat tekhnik dan menemukan bahan-bahan kimia yang berguna bagi masyarakat. Seperti alat untuk mengalirkan air dari danau ke atas bukit, membuat alat transportasi berupa balon udara yang cukup besar, dan sebagainya. Jika ditotal sampai sekarang, karyaku hampir sebanyak umurku.

Tingkah laku anehku waktu itu Cuma kegemaran membakar tikus dalam kondisi hidup tiap tikus yang kujumpai dan tertangkap. Aku bersorak gembira menyaksikan tikus itu berlarian kepanasan terbakar. Setelah tikus itu mati, aku letakkan ia di atas lempengan besi di bawah batu besar yang kugantung 2 meter di atas permukaan tanah. Anda bisa bayangkan apa yang terjadi pada bangkai tikus itu setelah tali yang menahan batu seberat 50 kilogram itu aku lepaskan menggencetnya. Jadilah ia wayang kulit ? benar. Tidak hanya sampai di situ derita si tikus, aku kalungkan di leher bangkai tikus yang sudah jadi wayang kulit itu tulisan “ siapa yang berani menggangguku akan bernasib seperti ini “ dan kugantung ia di atas lubang dimana tikus sering keluar masuk.

Sebenarnya, aku bertindak seperti itu bukan karena aku memang ilmuan yang idiot, itu karena tikus-tikus itu sering mengganggu aku. Mereka sering mencuri ayam gorengku, mengencingi bantal tidurku, mengambil kaus kakiku. Ada yang melubangi sarungku, dan yang membuat aku kehilangan kesabaran dan menyatakan perang pada mereka adalah karena buku yang telah susah payah kususun selama belasan tahun mengenai sepuluh karya ilmiah terbaikku, mereka gerogoti dan sebagian mereka makan dan mereka jadikan sarang tidur mereka. tetapi, masyarakat tidak percaya sedikit pun alasanku itu, masyarakat lebih meyakini aku kemasukkan roh-roh jahat atau menganggap aku ilmuan idiot yang sadis, sehingga sebelum bertambah parah dan yang jadi korban adalah mereka, aku pun harus diamankan dalam bui bawah tanah.

Meski dalam penjara aku diperlakukan sebagaimana manusia, tetapi aku tetap saja tak tahan dan ingin secepatnya bebas. Anda tahu, dalam penjara tak ada keindahan, tak ada aroma bunga-bunga taman, tak bisa melihat pemandangan hamparan pegunungan nan hijau indah, tidak ada gadis-gadis cantik yang bisa kurayu dan kuajak ngobrol. Di penjara yang ada cuma sunyi dan wajah tembok penjara yang pucat berlumut. Aku merasa harus segera bebas sebelum gila sungguhan. KECUALI PENJARANYA SEPERTI SEKARANG, LAYAKNYA HOTEL BERBINTANG LIMA, SEUMUR HIDUP AKU MAU DIPENJARA. BAHKAN AKU SANGAT BERSYUKUR JIKA ANAK KETURUNANKU DIPENJARA SEMUA.

tidak sampai dua bulan aku mendekam di bui. Kepada siapa saja, aku memperlihatkan sikap manisku pada tikus. Di depan orang terkadang aku berbagi makanan dengan tikus, terkadang aku sisir bulunya, atau aku biarkan tikus-tikus itu tidur di pangkuanku sambil aku elus-elus, bahkan ada yang sampai aku ajak bercumbu. Pokoknya tikus-tikus itu benar-benar aku manja, kupuja, seperti dewa. aktingku sebagai orang yang penyayang binatang alias tidak sadis lagi berhasil, petugas pun yakin bahwa aku sudah sembuh, dan akhirnya aku bisa menghirup udara kebebasan.

Setelah bebas, tikus tetap tikus, mereka adalah musuhku, tidak berubah pendirianku sedikit pun. Tetapi jika aku masuk penjara lagi karena kasus yang sama itu adalah kebodohan bagiku. Karena itu, perangku pada tikus tidak secara langsung. Setrategi yang kupakai adalah menghasut para kucing. Suatu hari, secara diam-diam kukumpulkan para kucing di suatu gedung mewah lengkap dengan berbagai daging bakar kesukaan kucing. Di atas podium aku berkoar-koar, kuyakinkan mereka bahwa para tikus hendak mengkudeta kekuasaan kucing di setiap rumah.

“ jika demikian, kalian hanya akan kebagian ikan asin,”hasutku kepada para kucing,” itu pun jika tikus masih punya rasa kasihan pada kalian. Kalian tahu, tikus itu licik, rakus. Karena itu, jika kalian diam saja, kalian pasti dipecundangi.”

Kulihat para kucing mendengar ocehanku dengan seksama. Tidak ada yang ngobrol sendiri.

“ apa kalian rela dipecundangi tikus,” kataku berteriak.

Para kucing serempak menjawab tidak. Kemudian disusul salah satu kucing berteriak-teriak penuh emosi,” lawan tikus, habisi tikus…” kucing-kucing lainnya pun satu persatu ikut meneriakkan hal yang sama.

Aku bangga, ternyata sampai sekarang, hasutanku itu tetap meraja di hati para kucing. Anda lihat! Di mana-mana tikus diburu oleh kucing.

Sekarang, kata salah satu malaikat, sebagian tikus-tikus menjelma menjadi manusia dengan sifat yang tetap rakus dan licik. Hampir di setiap tempat setrategis manusia tikus ada. Di pemerintahan, parlemen, pengadilan, kepolisian, bea cukai, pasar, dan di berbagai tempat setrategis lainnya. Manusia tikus itu tingkah lakunya 100 kali lebih sadis dan aneh dari kaum idiot savant. Bayangkan! Mereka memakan ratusan mesin jahit, sapi bantuan untuk korban PHK ( pemutusan hubungan kerja ), menggunduli hutan, memakan ribuan kubik kayu, makan barang bukti, bahkan sampai ikut merumuskan undang-undang.

Lagi, kata malaikat, manusia tikus sekarang sangat lihai, pandai berpura-pura menutupi kedoknya. Tidak segampang memilah warna hitam dan putih dari abu-abu untuk membedakan mana manusia tikus dan bukan. “ ia bisa sempurna menampakkan diri sebagai orang yang soleh, rajin sholat, lugu, pembela rakyat, polisi, penegak keadilan,menteri, ikut tinggal dan tidur bersama orang miskin, ia bisa tampak kelihatan sebagai manusia pada umumnya,”begitu kata malaikat mewanti-wanti. Karena itu, saran malaikat, masyarakat harus lebih berhati-hati dan kritis. Jangan sampai menjadi korban adu domba manusia tikus.

“ ingat! Sudah ada satu pemburu manusia tikus yang berhasil dijebak manusia tikus dan masuk bui,” demikian akhir pesan malaikat itu sebelum akhirnya ia melambaikan tangan dan melesat ke langit.


Blog EntryFeb 9, '10 9:58 PM
for everyone

bila ada perempuan yang dirindu hatiku
melebihi rindunya daun akan embun
seperti rembulan yang dirindu malam
itu kau


tak pernah ada
dan tak akan pernah ada cerita
dua rembulan menghias malam
hanya satu
dan akan tetap satu
dalam hatiku
itu kau


kau adalah alasan
kenapa hingga saat ini
ku masih sendiri



Blog EntryFeb 4, '10 9:01 PM
for everyone

Sudrun yang tengah mabuk dalam perjalanan menuju ke rumahnya mengendarai sepeda motor. Ia melewati segerombolan pemuda yang sedang asyik bercanda di sebuah pos ronda. Beberapa meter setelah pos ronda itu,tanpa Sudrun duga, sebuah benda menghantam kepalanya. Seketika ia menghentikan laju motornya. Ia merasa ada yang sedang jail.”pasti mereka, “ pikir Sudrun. Sudrun pun berbalik arah menghampiri sekumpulan pemuda yang berada di pos itu.

Tepat di depan pos ronda, tanpa mematikan sepeda motornya, Sudrun turun mendekati pemuda-pemuda itu. “hei, “ teriak sudrun, “siapa yang tadi melemparku,” lanjutnya dengan bertolak pinggang, mata merahnya melotot memandang tiap-tiap pemuda itu.

Pemuda-pemuda itu saling pandang, dan mengangkat bahunya. Mereka menghiraukan Sudrun, dan bercanda lagi. “awas kalian,“ kata Sudrun sembari mengarahkan telunjuknya dan memasang muka garang ke pemuda-pemuda itu.

Merasa tak mampu melawan pemuda-pemuda itu sendiri, Sudrun hendak meminta bantuan teman-temannya. Tanpa ba bi bu lagi, sudrun menancap gas motornya pergi. Terdengar salah satu pemuda berkata “ sinting itu orang “.

Kepada teman-temannya Sudrun menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Ia meminta kesetiakawanan teman-temannya untuk membantunya memberi pelajaran kepada pemuda-pemuda yang ada di pos ronda itu. Salah seoran teman Sudrun tidak ikut, sedang teler berat, tersungkur memeluk botol kosong minuman, dan ngomel-ngomel tak jelas.

Mereka ber-enam termasuk Sudrun sampailah di pos ronda itu. Namun, tak mereka jumpai seorang pun. “dasar pengecut, “ kata Sudrun kesal. “jangan bersembunyi kalian, hei pengecut…” teriak Sudrun, matanya memandang ke segala arah.

coba cari di sana, “ perintah Sudrun kepada tiga orang temannya agar mencari di sekitar pohon mangga yang tak jauh dari pos ronda, hanya beberapa meter. “aduh…ada yang melempar punggungku,“ kata salah seorang teman Sudrun sambil tangannya mengusap-usap punggungnya. “mungkin mereka bersembunyi di atas pohon,“ sahut seorang teman Sudrun yang lain.

Sudrun dan ke-dua temannya menghampiri ke-tiga temannya yang berada di bawah pohon mangga. Mata Sudrun menerawang ke atas, mengamati tiap-tiap jengkal sudut rerimbunan gelap. Tiba-tiba, sebuah benda menghantam muka sudrun,” crott…”. Mangga busuk. Sudrun pun mengaduh, mata Sudrun mulai merasakan perih hingga ia memejamkan mata, dan hidungnya mencium bau busuk.

Salah seorang teman Sudrun menuntun Sudrun kembali ke pos ronda, ketempat yang lebih terang. Ke-empat teman sudrun mengikuti di belakang. Kemudian, tampaklah apa yang terjadi pada sudrun. Muka Sudrun blepotan, juga di beberapa titik wajahnya terdapat beberapa belatung merayap-rayap di permukaan wajahnya. Salah satu teman Sudrun muntah jijik melihat belatung merayap-rayap di wajah Sudrun. Teman-teman sudrun yang lain terbahak-bahak menertawai Sudrun. “mungkin kamu disuruh tobat Drun…,” kata seorang teman Sudrun di sela tawanya.

Karena merasa terus diejek, Sudrun berlalu pergi meninggalkan teman-temannya yang masih terbahak-bahak…

Keesokan harinya, hari Jum’at, di tengah hari, terlantun indah suara adzan di kejauhan. Panggilan Tuhan itu seketika membangunkan sudrun dari tidur lelapnya, dadanya berdebar, keringatnya bercucuran, ia ketakutan seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut, suara merdu adzan dirasa pekikan terompet isyarat kiamat, hatinya merasakan gambaran siksa yang berat atas dosa-dosanya. Segera ia meluncur turun dari tempat tidur. Tanpa mengenakan sandal, ia lari menuju kamar mandi, rasa sakit tersandung kaki meja ia abaikan. Bagai sedang lomba menguras kolam, dengan cepat ia mengguyur badannya. Tak lupa, selesai mandi ia langsung wudlu.

Akhirnya, sajadah yang lama mendekam di lemari terjamah juga. Uang empat puluh ribu sisa beli minuman keras semalam ia bawa semua, ia hendak menyedekahkan uang itu. Dan sebelum berangkat ke mesjid ia melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, ia menuju kamar ibunya yang terduduk di kursi roda kemudian bersimpuh di pangkuan ibunya dan menangis, “bu maafin aku, slama ini aku udah banyak menyusahkan ibu…”

udah-udah…ibu maafkan…” kata si ibu mengangguk, matanya berkaca-kaca dan air matanya tak terbendung lagi membasahi pipinya.

karena datangnya telat, Sudrun tidak kebagian tempat di dalam mesjid, sehingga ia harus rela sholat di halaman mesjid beralaskan tikar yang disediakan pihak mesjid. Kondisi pada saat itu angin cukup kencang. Tak lama kemudian sholat dimulai, sajadah ia gelar. Ketika hendak sujud, tiba-tiba angin menggulung sajadahnya, sehingga saat sujud keningnya merasakan tertekan kerikil-kerikil di bawah tikar itu. Tetapi ia merasa sujudnya lebih nikmat, ia merasa keningnya dipijat oleh kerikil-kerikil itu. Saat sujud yang terakhir, ia teringat apa yang diucapkan temannya,” mungkin kamu disuruh bertobat drun…”sepertinya Tuhan menelusupkan kesadaran ke dalam qolbunya, tiba-tiba hatinya bergumam,” ya Allah, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Engkau tak pernah bosan mengingatkan hambaMu. Kau perintahkan kerikil-kerikil ini memijat keningku, menyambut sujudku, padahal aku sering mengabaikan perintahmu,…ya Allah,aku malu, ampuni aku…”

ketika pulang dari sholat, di tengah jalan ia mendengar seorang anak kecil menyanyikan sebuah lagu,” dunia ini panggung sandiwara…”. Lagu itu membawa pikiran sudrun berkelana ke hal-hal yang terjadi semalam yang menurut sudrun bukan kebetulan. “Kenapa jatuhnya mangga itu pas ketika aku lewat di bawahnya sehingga menimbuk kepalaku,” pikir sudrun," kenapa gak sebelumnya, ah…sebenarnya Allah telah mengingatkanku waktu itu, tapi kuabaikan, tak kupikirkan. Allah pun ingatkan lagi dengan jatuhnya mangga busuk penuh belatung itu ke mukaku. Tapi itu juga tidak aku renungkan, kemudian Ia tampakan siksa apa yang akan kualami jika mengabaikan kasih sayangNya, peringatanNya.…Andai aku tetap mengabaikan peringatanNya aku tak bisa bayangkan apa yang kan terjadi padaku…Atas tiap-tiap manusia, hambaNya, Ia beri mereka kebebasan tapi juga membatasi dengan skenarioNya. SkenarioNya adalah di antara kasih sayangNya pada hambaNya, seperti halnya orang tua yang sayang pada anaknya. orang tua tidak membiarkan,memberikan kebebasan sepenuhnya tanpa ikut ambil bagian, mengingatkan, mebimbing, mengarahkan, memotivasi…dan Allah tiada jemu melakukannya untuk hamba-hambaNya,makhlukNya…Fir'aun saja yang mengaku diri tuhan masih Ia ingatkan dengan mengutus Musa, tapi fir'aun mengabaikan kasih sayangNya hingga sesal yang hanya bisa ia lakukan dan siksa yang ia dapatkan...Betapa Allah maha pengasih dan penyayang, tiada bosan menelusupkan hidayah pada hati hamba-hambaNya...” dalam pikiran yang berkelana itu tanpa terasa langkahnya telah sampai di depan rumahnya. di teras rupanya ibunya sudrun menunggu sudrun, terpancar ekspresi bahagia pada wajahnya. Sudrun pun segera menghampiri mencium tangan ibunya dan memeluknya.




Blog EntryFeb 4, '10 8:22 PM
for everyone


ikhlas itu berbading lurus dengan tingkat keyakinan pada Allah. orang yg yg yakin bahwa Allah maha membalas, maha mensyukuri, maha melihat,...ia tak akan pernah kecewa ketika kebaikan yang ia lakukan tidak mendapat sambutan baik orang lain, bahkan dicaci maki sekalipun ia tak merasa rugi, karena memang ia melakukan semua itu adalah sebagai wujud rasa syukurnya,cinta,dan pengabdian pada Allah. ikhlas itu menempatkan Allah sebagi penilai dan pembalas sejati atas apa yg dilakukannya, menempatkan Allah sebagai pertimbangan yg utama dalam niat dan bertindak
*************


kita dapat mengukur keikhlasan kita dari niat dan bagaimana hati kita menerima ketentuan yg Allah berikan pada kita
*************

masalah, apa yang kita alami adalah ladang ibadah, karna itu hadapi sebaik mungkin
*************

salah satu ciri orang yang rendah hati adalah berani memuji dan mengakui kelebihan orang lain
*************

menganggap orang lain saudara membuat kita memiliki kecenderungan menyayanginya
*************

waktu adalah karunia Allah yang merupakan modal hidup kita. betapa bodohnya jika modal itu disia-siakan
*************

karena rahmat Allah mengalir terus tiada terputus kepada makhlukNya, maka, ketidak bahagiaan merupakan ketidaktepatan mensikapi masalah hidup
*************

rizki yang hakiki adalah kebajikan yang dilakukan dengan ikhlas
*************

apa yang menimpaku, apa yang kudapat adalah konsekuesi yang memang semestinya kuterima. dan itu terjadi atas ketetapan Allah yang maha adil dan bijaksana. orang lain atau alam hanyalah jalan dari akibat yang semestinya kuterima
*************

sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi kemaslahatan bagi orang lain
*************

bodoh bukanlah melakukan kesalahan, bodoh adalah melakukan kesalahan yang sama
*************

sabar bukan berarti pasif, sabar adalah tidak menuruti dorongan hati yang mengarah pada tindakan yang tidak disukai Allah
*************

kebahagiaan sejati hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar mengenal Allah
*************

sabar membuat kita dapat menikmati masalah dan merasakan manisnya iman
*************

tidak pandai berterimakasih pada Allah, siapa yang tidak pandai berterimakasih pada sesamanya
*************

doa adalah harapan, maka sama halnya tong kosong tanpa usaha. doa adalah pupuk, pupuk untuk ikhtiar
*************

doa adalah ujian keimanan, Allah tiada mensia-siakan permohonan hambaNya
*************

lebih mudah mencerna kripik daripada kritik. Lebih mudah tersenyum pada tukang kripik daripada pengkritik. Tetapi,alangkah mulia jika bisa tersenyum dan mendoakan kebaikan untuk si pengkritik
*************

jika bisa mengkritik seharusnya lebih siap untuk dikritik
*************

siapa yg ikhlas berbuat baik kepada orang lain, tidak pasti dibalas kebaikan oleh orang tersebut, tapi pasti balasan kebaikan dari Allah.
*************

orang yang sulit meremehkan orang lain, ia akan mudah memetik ilmu, dan terjaga kebersihan hatinya.
*************

tidak bijak menilai kekurangan orang lain akan berakibat kotornya hati sendiri, dan berpotensi terdorong diri pada tindakan yang tidak terpuji: ghibah, fitnah, merendahkan...
*************

  nabi Ibrahim yakin bahwa sebaik-baik perlindungan adalah Allah, sebaik-baik bergantung adalah pada Allah. karena itu, api pun tidak bisa melukai nabi Ibrahim. seberapa keyakinanmu pada Allah, sebesar itulah kekuatanmu.. dari yakin mewujud ihklas, sabar, istiqomah, pengabdian, cinta, ridho, tegar, kegigihan, berani...dan mengundang perlindungan,pertolongan,rahmat Allah......
*************



Blog EntryJan 30, '10 9:30 PM
for everyone


hatiku! kapan engkau akan mengerti
dia tiada bisa kumiliki
kenapa masih engkau simpan berjuta rasa indah itu
kau tahu, itu hanya menyiksaku
dia telah lama pergi


kenangan!
semakin engkau sering hadir dalam angan dan mimpiku
bertambah pula luka hati ini menganga
perasaanku terabik-cabik
jiwaku merintih pedih
pergilah yang jauh
sampai angan dan mimpiku tak menemukanmu
biarkan jiwaku tentram


cinta! aku kehabisan kata-kata
bagaimana membuatmu paham akan kata " tiada "
dia telah tiada
cinta! engkau benar-benar buta



Blog EntryJan 27, '10 10:05 PM
for everyone


Hampir setiap pagi aku mengantar ibuku berbelanja ke pasar. Sambil menunggu ibuku selesai berbelanja biasanya kusinggah di pos ojek pojok pasar. Di situ banyak dari tukang ojek adalah teman-temanku. “lagi ngegosip apa nich, gabung ya?” adalah jurus yang biasa kugunakan untuk bisa menceburkan diri dalam obrolan mereka. dan jawaban khas yang biasa mereka lontarkan adalah ” ok ok lah klo beg beg begitu…” dengan logat tegal yang terkadang membuatku tertawa terkekeh-kekeh. Selain ngegosip, biasanya aku melayani tantangan bu juminten main catur.

Bu Juminten adalah satu-satunya tukang ojek wanita. Ia melakoni pekerjaan itu sudah cukup lama, terukur oleh ingatanku sekitar tiga tahun. Alasan yang ia berikan padaku adalah membantu suami, biaya sekolah kedua anaknya kian tidak sedikit lagi, ditambah ongkos kontrakan yang ikut naik, ia merasa kasihan pada suaminya. Untuk membantu suaminya itulah ia memilih menjadi tukan ojek karena ia sangat hafal arah-arah jalan dan lihai mengendarai sepeda motor. “ hanya ini yang aku bisa dik,” jawabnya padaku ketika kulemparkan tanya padanya bahwa tukan ojek itu kan pekerjaan yang identik dengan pekerjaan yang dilakukan lelaki.

Bu Juminten bagiku adalah sosok ibu yang tangguh. Belum pernah kutangkap suara keluhannya. Semangat kerjanya gila, bahkan aku yang loyo sering tertular bersemangat melihat ia bekerja. Cuaca panas tak buat semangatnya lemas. Meski hujan deras akan tetap roda motornya menggilas jalan menghantarkan penumpang sampai tujuan. Dan malam baginya seperti siang. Dia memang perlu uang, tapi dia tidak gila uang. Dia melakukan itu semua karena cinta, cinta pada suami, anak-anaknya, dirinya sendiri.

Saat itu, bu Juminten langsung menyambut kedatanganku dengan tantangan bermain catur. Ternyata, jawaban ‘ ok lah klo begitu ‘ dengan logat tegal yang biasa kawan-kawanku ucapkan menular padaku, kupakai itu untuk menjawab tantangan bu Juminten. Segera ia menata buah catur di atas papan catur. Sambil bermain, seperti biasa obrolan pun ikut mengalir. Karena lagi musim pembicaraan fatwa MUI ( Majelis Ulama Indonesiana ) di berbagi media, kuangkatlah topik itu.

“ udah dengar fatwa mengenai tukang ojek wanita bu?” kataku sambil memindahkan pion memulai permainan catur.

Bu juminten tersenyum sebelum akhirnya menjawab,” ya. Menurutku itu mubazir. Sebenarnya dengan mengingatkan kembali hakekat halal-haram, wajib-sunah, dan makruh itu sudah cukup.”

Sepertinya bu Juminten menangkap raut mukaku yang tampak belum mengerti apa yang diucapkannya itu. Tanpa kutanya, ia meneruskan,” masyarakat sebenarnya sudah paham hakekat halal haram, tanpa dibuatkan fatwa, mereka bisa menilai sendiri sejauh mana suatu sikap atau pekerjaan yang halal itu hukumnya bisa menjadi haram. Memang tingkat pemahaman tiap orang itu berbeda satu dengan lainnya, karena itu mengingatkan atau memperjelas hakekatnya itu lebih efektif.

Coba hitung saja, berapa ada tukang ojek wanita se-Indonesiana. Saya yakin jumlahnya terus menurun, jika bukan disebabkan itu satu-satunya pekerjaan yang saya bisa, saya tidak berminat menjadi tukang ojek, dan saya rasa tukang ojek wanita lainnya sama dengan saya. Jika dibandingkan dengan anggota mejelis yang membuat fatwa itu, dibandingkan waktu yang tercurah untuk membuat fatwa itu, dengan jumlah kami tukang ojek wanita, apa tidak mubazir itu.”

Bu Juminten masih terus menumpahkan uneg-unegnya.” fatwa bukan aturan, ia hanya penafsiran atas suatu fenomena atau masalah dengan mengacu pada Al-qur’an dan hadist, penafsiran yang bisa salah bisa benar, karena bukan aturan ia tidak bersifat mengikat, sehingga tidak ada keharusan orang untuk mengikuti. Karena tidak ada keharusan untuk mengikuti, maka keefektifan fatwa itu tergantung kesadaran masyarakatnya.

Misalnya ‘makan’, makan hukumnya wajib jika perut lapar, makruh jika sampai kekenyangan, haram jika makan yang bukan haknya, dan pastinya super-super haram memakan uang rakyat. Ada atau tidak fatwa tentang hukum makan, bagi orang yang sadar, dia akan berhenti makan sebelum kenyang agar tidak makruh, tidak akan makan yang bukan haknya, apalagi untuk memakan uang rakyat. Karena itu, usaha menumbuhkan kesadaran masyarakat lebih penting dari pada merumuskan fatwa.

adakalanya hati itu susah disadarkan, mati, sehingga usaha menyadarkan seperti berbicara pada orang tuli, tidak berpengaruh apa-apa. Untuk kondisi masyarakat yang seperti ini,fatwa pasti tidak mempan, perlu yang mengikat, yakni aturan. Untuk itu, MUI jangan hanya pintar membuat fatwa, tapi juga melobi, duduk bersama dengan pemerintah, pemuka-pemuka agama lain, merumuskan aturan untuk mewujudkan masyarakat yang beretika, untuk kemaslahatan bersama…”

telepon genggamku berdering memotong obrolan kami sejenak, ada pesan masuk dari ibuku yang mengatakan bahwa ia minta dijemput, ia telah selesai berbelanja. Tapi bu Juminten sepertinya masih ingin menumpahkan uneg-unegnya. Sebelum akhirnya aku permisi untuk pergi menjemput ibuku, kutahan diri tinggal sejenak agar bu Juminten menuntaskan pemikirannya, dan bu Juminten meneruskan,” jika MUI memikirkan, peduli kemaslahatan umat Islam, saya rasa jangan hanya mengeluarkan fatwa haram suatu pekerjaan, bersamaan dengan itu mereka sebaiknya menyodorkan, mensosialisasikan, mengajarkan pula suatu ketrampilan lain sebagi pengganti pekerjaan ( profesi ) yang mereka haramkan. Saya tidak sedang mengolok-olok MUI, saya sedang mencurahkan keluh-kesah, suara hati saya.”

Yah..bu Juminten, saya hanya bisa mengamini asamu, moga asamu sampai. AMIN



Blog EntryJan 19, '10 12:31 AM
for everyone


Masih tergambar jelas dalam ingatanku kisah romantis antara engkau dan aku. Malam itu tepatnya di akhir pekan, bulan berada di tepi bumi bersinar terang tanpa ada awan menghalang sedikit pun seperti matahari yang hendak memulai pagi. Aku dan kamu duduk di tepi pantai nan sepi menikmati pemandangan lautan dan irama alam. Tidak ada ombak berteriak, air laut tidak begitu bergelombang sehingga bayangan rembulan tampak jelas bagai hamparan jalan berkilauan menjulur ke tepi pantai. Hanya angin yang masih bergairah berinteraksi dengan dedaunan, pasir, alam, tubuk kita, dan memainkan rambut panjangmu yang terurai wangi.

Bersamamu selalu saja ada kisah lucu baru yang membuatku terkadang tersenyum geli saat terkenang. Seperti malam itu. Sembari kau sandarkan tubuhmu dalam pelukanku, kau Tanya aku:“ kenapa kau menyukai tempat ini?”.Aku jawab karena sepi dan tenang. Sepi membuat hati leluasa untuk bicara. Ungkapan-ungkapan hai benar-benar total terekspresi . sepi adalah ruang untuk menata hati dan pikiran. Karena itu aku menyukai tempat ini.

Kupikir dengan penegasan ' karena itu aku menyukai tempat ini ' kau tak akan bertanya lagi dan diam dipelukanku. Tapi aku salah, kau langsung mengejar tanpa jeda dengan Tanya lagi: hanya itu ?”

Dan kau tentunya masih ingat dengan jawabanku yang puitis:tidak. Dalam sepi aku berharap engkau mendengar akan debar jantungku yang iramanya mendendangkan lagu cinta, suara hatiku.”

Tapi, lagi, kau begitu gesit, tahu kapan aku akan berhenti menjawab dan tanpa jeda kau langsung menyambung: gombal. “

Kau tahu, kata “ gombal “ ini membuatku tak tahan untuk tidak mencubit hidungmu. Kemudian seketika kamu membalas mencubit kedua pipiku dan engkau langsung berlari menghindari balasanku.sini kalau berani, katamu mengejekku. Dan tak lupa kau buat isyarat dengan menari-kan jari telunjuk tangan kirimu agar aku mengejarmu. Aku pun tergoda dan mengejarmu. Kita saling berkejaran, bermain pasir, sampai akhirnya kau pura-pura kelelahan dan memintaku memijak-mijat kakimu. Kemudian, kita pun benar-benar lelah, diam, seperti laut di malam itu yang tiada berombak.

Kau tentunya masih ingat, masih ada yang begitu berkesan di benakku dari kisah malam itu. Sebelum beranjak pergi meninggalkan pantai. Di malam yang sudah bertambah sunyi, kita berdua menikmati jagung bakar seperti tikus yang rakus. Sunyi sepi membuat suara mulut kita mengeksekusi jagung bakar terdengar beringas. Dengan cepat layaknya orang belum makan satu bulan kita mengoyak, menggilas. Sekilas, sepuluh jagung bakar pun terlibas tinggal ampas. Jika ingat ini, terkadang muncul keinginan mendaftarkan kita ke MURI ( Musium Rekor Indonesia ) sebagai pemakan jagung bakar tercepat.

Ternyata kisah romantis kita malam itu tidak sampai di situ. Di tengah perjalanan pulang dari pantai, ban sepeda motor yang kita kendarai tertusuk paku. Sampai saat ini masih terasa lembutnya tanganmu mengusap keringat di wajahku, meski pada akhirnya harus kubayar dengan menggendongmu pulang karna kakimu keseleo, tapi dengan senang hati itu kulakukan. Dan yang juga terkadang membuat aku tertawa sendiri saat terkenang adalah ketika aku menggendongmu dan bercerita tentang banyak hal, tapi ternyata kamu tertidur memeluk punggungku.

Tahukah kau, malam itu begitu berharga dan bermakna bagiku. Dulu perasaanku sering menangis mengeluh karena aku hanya bisa membelikanmu jagung bakar. Tidak seperti lelaki lain yang membelikan kekasihnya kalung, cincin emas berlian intan permata. Tapi, malam itu telah membuat aku sadar bahwa membahagiakan wanita tidak identik dengan memberi harta.

Aku tidak tahu apakah kita ditakdirkan bersatu, tapi aku tak akan menyerah sebelum tampak jelas kau sudah ada yang memiliki. Aku tidak tahu kenapa orangtuamu menjauhkanmu dariku. Aku bertanya ke semua temanmu tentang keberadaanmu dimana, tapi hasilnya nihil, salah satu teman akrabmu hanya bilang kamu sekarang di Belanda di tempat orangtua ayahmu. Apalagi kedua orangtuamu, mereka menutup bibir rapat padaku.

Tapi pada akhirnya kekuatan cinta memberi jalan. Tak tahu kenapa tiba-tiba adikmu memberi tahu alamatmu padaku. Adikmu hanya bilang:sangat tersiksa hati terpisah dengan sang kekasih.” Aku rasa ini adikmu lakukan karna sayang kamu, dia meminta tolong aku untuk membujukmu agar kamu mau memaafkan dia. Setelah tahu alamatmu, aku langsung menulis surat ini, tak sabar hati ini mendengar kabarmu, tawamu.

Maafkan aku tak bisa menyertakan oleh-oleh bersama surat ini, masih seperti dulu, hanya sanggup membelikan jagung bakar. Tapi aku punya prosa ungkapan kesetiaan hatiku yang mengekspresikan perjuanganku melawan kebimbangan, perjuangan untuk tidak tergoda, pindah kelain hati. Semoga prosa ini tak kalah berharga dibanding harta bagimu:

Aku slalu di sana, di mana terakhir kali engkau memelukku, engkau teteskan air matamu di pundakku bisikkan janji, dan aku terpaku melihatmu melambai-lambaikan tangan seiring kapal itu menarikmu menjauh.

Hari-hariku adalah di sana, mengamati tiap kapal yang bersandar. Tiada lelah mataku menelaah tiap langkah kaki yang menyapa dermaga. Penuh harapku, salah satu adalah engkau. Walaupun, lagi-lagi aku harus pulang menggulung kerinduan untuk kugelar esok lagi.


Aku telah di sana, sebelum embun-embun menempel pada dedaunan, sebelum ayam-ayam jantan sadar akan waktunya berkokok, sebelum mereka yang terlelap terbangun dari mimpinya, aku setia menantimu meskipun banyak yang berkata itu sia-sia.

Aku masih di sana, meski ombak berhenti berteriak, matahari melambaikan mega, dan tiada lagi langkah-langkah kaki di sekitarku. Hingga sepi benar-benar menjadi nyata…aku tetap di sana.


Aku akan slalu disana, meski terkadang aku terduduk dan terbaring dalam bimbang…



Oh…ya, hampir terlupa, dulu kamu sering menghujaniku pertanyaan, kini giliranku menyerangmu,” kenapa sih kamu diberi nama Juminten?” nama itu ndeso banget, tidak serasi dengan paras mukamu yang Belanda itu. Gimana kalau aku kasih nama Dayu, atau Destya, atau Ayu Destya. Hmm…tapi jika melihat sikapmu, tetap tepat pakai nama Juminten. Juminten mencerminkan sikap yang lugu, selugu cintamu padaku.


Last but not least
Balasmu sangat kutunggu
Mengobati rindu yang telah lama mendahaga
Salam kangen dari kekasihmu yang ganteng
Satria.



Blog EntryJan 16, '10 7:52 PM
for everyone


ada bahagia kurasa
tatkala engkau bahagia
dan sedih pun tiada mampu kuhindari
saat engkau dilanda nestapa

aku pun merasakan,
semerbak harum wangi bunga yang engkau kecup
sejuk segar udara pagi yang engkau hirup
rasa lapar yang engkau tahan
perih kulitmu tergores tanah
lelah yang tiada mau mengalah
pun hatimu yang merindu
hatiku merasakan semua yang hatimu rasa
walau jauh aku tiada di sampingmu

aku rasa hatimu telah mengerti
hatiku memilihmu,
telah memilihmu sebelum aku mengenalmu

bila hatimu masih meragu
dan memilih yang lain
tiada aku memaksa
meski hatiku sebenarnya sangat menginginkanmu



Blog EntryJan 10, '10 12:50 AM
for everyone

ketika awan tak mampu lagi menyangga tubuhmu
dan udara juga berkhianat;
meluncurkan tubuhmu tepat kearah batu-batu karang yang tersenyum
tersenyum mepertunjukkan taring-taringnya
tersenyum seolah mereka pasti menang
dan akalmu berkata," kamu pasti kalah " tiada lain.
apalagi kajian ilmu ilmiah lengkap memuat rincian ramalan kekalahanmu.

meski demikian, harapanmu tiada boleh mati
karena kamu belum mati
selalu ada ruang untuk kesempatan dalam kesempitan
kesulitan selalu bergandengan dengan kemudahan
ingat juga kata Tuhan Yang Maha Menepati janji:
"...Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-Ku?
Tidakkah semua rahmat dan karunia berada di tangan-Ku?
Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?
Tidakkah hanya aku tempat bermuaranya semua harapan?
dengan demikian, siapa yang dapat memutuskannya daripada-Ku?
apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap,
andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi:
Mintalah kepada-Ku!
lalu Aku pun memberikan kepada masing-masing orang..."


Tuhan punya kuasa atas segala sesuatu
tiada yang sulit bagi Tuhan
apalagi cuma menolongmu
karena itu,tak seorang pun pantas memastikan kamu akan kalah
bahkan dirimu sendiri
adalah kesombongan memastikan kekalahanmu
meski tampak jelas taring-taring batu karang mencabik-cabik tubuhmu
juga terlihat pasti darahmu membasahi bumi
dan nyawamu menguap ke langit
ini hanya kekalahan semu

tahukah kamu apa pertolongan Tuhan dan kemenangan itu?
itu tidak selalu berarti mampu meluluhlantahkan batu karang selembut debu
juga bukan bermakna berkibarnya bedera tanda mengusai
bukan pula bermakna yang terlihat
pertolongan dan kemenangan bisa bermakna tidak matinya harapan
juga jiwa yang tidak tunduk pada siapa pun kecuali pada-Nya
atau pribadi berhati baja yang siap menerima tantangan kehidupan
tidak mengenal menyerah, meski nyawa di ujung tanduk



Blog EntryDec 16, '09 12:18 AM
for everyone


hatiku lelah
pikiranku menyerah sudah
meraba apa maumu

tiap tanyaku
abu-abu jawabanmu
selalu memberi teka-teki

aku punya rasa
aku bukan boneka

cinta itu jelas
tak ada ragu

untuk apa aku mempertahankan,
cinta yang masih tanda tanya

sebelum luka menyapa isi dada
aku memilih berpaling



Blog EntryDec 10, '09 11:40 AM
for everyone


Jika diupamakan pemakai narkoba, bisa dikatakan Satria termasuk orang yang tidak bisa hidup tanpa obat terlarang tersebut. Betapa tidak, hampir tiap waktu ia sempatkan menengok status atau sekadar cek email. Rasanya ada yang kurang pada dirinya jika terlalu lama jauh dari dunia maya. Pagi itu, rambutnya masih acak-acakan kayak orang belum makan seminggu dan kalau bercermin pasti ia akan ketakutan sendiri, matanya juga masih terasa berat untuk melihat dunia, tapi jemari kedua tangannya sudah gerayangan di atas meja menggapai laptop. Tanpa melihat tombol-tombolnya, jarinya dengan lincah mengerjakan apa yang mesti dilakukannya.

Ia gencar menyusuri jaringan pertemanan di dunia maya karena ia tak ingin dijadikan bahan ejekan terus atau dibilang tidak pandai mencari pendamping hidup oleh teman-temannya yang telah meningkah, ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa menemukan sendiri tanpa perlu di jodohkan orang tuanya atau dimakcomblangi teman-temannya. Ia ingin membalas ejekan teman-temannya dengan membawa bidadari yang ia dapat ke hadapan teman-temannya, serta dengan bangga mengatakan “ hei…ini lho calon istriku, minggu depan kami menikah, datang ya!”

Kenapa melalui dunia maya? Ia ingin memberi surprise kepada teman-temannya yang mengejek itu, juga ia tak mau keliatan terusik oleh ejekan mereka. Demikian jika ia tak berhasil, ia tak malu pada teman-temannya dan beralasan, “ aku kan tidak mencari, sehingga kalian tak berhak menganggap aku kalah. Aku terima perjodohan ini karna aku ingin menyenangkan orang tuaku.”

Pagi itu, sambil menunggu si netbook loading masuk ke situs pertemanan, Satria beranjak keluar dari kamarnya menuju lantai bawah. Langkahnya ke kamar mandi tertahan sebentar oleh aroma tempe goreng yang tersaji di atas meja makan, tangannya meraih sepotong tempe dan melahapnya, “ hmm…kurang asin bu,” katanya menggoda ibunya yang masih goreng-menggoreng di depannya.

Dan ibunya spontan menjawab,” udah asin gini masih dibilang kurang asin. Itu tandanya kamu udah minta dinikahkan.” Satria hanya menjawabnya dengan tertawa menirukan tawanya mbah Surip, kemudian berlalu menuju ke kamar mandi.

setelah lima menit bermesraan dengan air, kedua mata Satria benar-benar bersih dari makhluk-makhluk kecil yang bikin kurang sedap dipandang, lalat pun yang tadinya mengikutinya di belakang Satria sewaktu masuk ke kamar mandi, tampaknya tak bernafsu lagi menghampiri Satria. Demikian, sewaktu keluar dari kamar mandi, ibunya langsung menyambutnya dengan senyuman dan menyanjungnya,” begitu dong, bangun pagi jangan cuci muka doang.”

Langkah Satria menuju lantai atas terhenti di pertengahan tangga oleh seseorang yang sangat ia kenal,.” nak…sini sebentar, ada yang ingin ibu bicarain ama kamu.”

Satria amat patuh pada siapa yang memanggilnya itu, ia langsung bergegas menghampiri ibunya, ditariknya kursi yang terselip di bawah meja makan, tangan kirinya yang memegang handuk itu tak berhenti mengusap-usap rambut gondrongnya yang masih basah. Aroma tempe goreng di atas meja makan itu menggoda Satria ntuk mengambilnya, tangan kanan Satria mengulur mengambil sepotong tempe dan melahabnya. Ia duduk tepat di depan ibunya.

” ada apa bu?” katanya, sambil meletakkan handuk di pundaknya.

“ nak…apa kamu gak ingin segera nikah, umur kamu udah 29 tahun dua bulan lagi. Dan ibu blom pernah lihat kamu menghadirkan seorang wanita pun pada ibu ntuk kau nikahi. Wanita yang seperti apa sih yang kamu inginkan nak? Ibu sebenarnya ingin sekali menjodohkanmu sama nak Arini. Kamu sendiri udah tahu seperti apa nak Arini. Kemarin ibu udah ngomong sama nak Arini dan orang tuanya tentang ini. Mereka setuju dengan keinginan ibu, tapi mereka juga menghargai keputusanmu. Mereka ingin agar tidak lebih dari dua minggu kamu sudah bisa memberi tanggapan.”

Satria sangat mengerti ini bukan waktunya bercanda ria dengan ibunya; Ia sangat mengenal seperti apa bahasa tubuh ibunya antara bercanda dan serius. Setelah berpikir sebentar Satria menjawab,” baiklah bu, dua minggu lagi Satria akan menyampaikan keputusan Satria sama mereka.”

“ sama ibu kan ke sana?” sahut si ibu dengan kedua tangannya menggenggam erat tangan Satria dan menatap Satria dengan tatapan yang membuat Satria tidak bisa bilang tidak.

Satria mengangguk. Dan si ibu melepaskan genggaman tangannya, kemudian meraih sepiring tempe hangat di sebelahnya dan menyodorkannya pada Satria,” ini…jangan biarkan cacing di perutmu itu teriak-teriak mengganggu ibu!”

Lagi-lagi Satria menanggapi canda ibunya dengan tertawa ala mbah Surip. Demi menyenangkan hati sang ibu, beberapa potong tempe pun dilahapnya. “ ini rasa strobery,” katanya saat melahap sepotong,” ini rasa anggur, “ sepotong berikutnya, “ lho ini kok gak ada rasanya, pasti ini tempe bonus dari pedagangnya ya bu?”

Si ibu pun tertawa. Mereka berdua tertawa.

Setelah sarapan pagi bersama ibunya itu, Satria langsung beranjak naik ke lantai atas menghapiri laptopnya yang telah siap pasrah menerima sentuhan jarinya. Seperti biasa, lagu-lagu melayu selalu ia putar menemaninya menjelajahi dunia maya. Ia masih melanjutkan agenda dua hari yang lalu, yakni memilah nama-nama Dina. Ia yakin Dina yang pernah mengisi hatinya dan terpisah setahun yang lalu itu ikut jaringan pertemanan. Tinggal 65 lagi dari 303 yang perlu ia telaah profilnya satu persatu.

Siapa itu Dina? Hmm…Dina adalah cinta pertama Satria, itu terjadi di dalam bis keberangkatan Malang-Bali. Saat itu sore hampir maghrib, di terminal Arjosari, merapatlah taksi warna biru di depan pintu terminal. Turunlah seorang perjaka ganteng dengan tinggi proporsional dan body sexy dari taksi itu, dan perjaka itu adalah Satria. Baru beberapa langkah menuju masuk ke dalam terminal, beberapa orang menghampirinya menawari tiket. “ mau ke mana mas? Ini mas murah,” kata seorang. “ ini juga murah mas, langsung berangkat,” kata seorang yg lain. tapi tawaran demi tawaran Satria hiraukan, ia memilih membeli tiket di loket, ia telah tahu bis mana yang pelayannya bagus setelah beberapa kali naik bis yang berbeda. Ia mendapat tempat duduk paling belakang, dan telah duduk seorang wanita cantik berambut panjang, wajah manis kuning langsat disebelah tempat duduk yang akan ia tempati, gadis yang akan menemani perjalanannya malam itu ke Bali, gadis itu adalah Dina yang sedang ia cari di jaringan pertemanan itu. Satria tidak tahu kenapa ia begitu menginginkan Dina, padahal di antara teman wanitanya banyak yang secantik Dina bahkan lebih, tapi itulah kenyataan yang terjadi pada Satria yang sulit ia urai asal muasal cintanya pada Dina. Trus kenapa terpisah dengan Dina? Ternyata waktu itu Dina pergi ke bali sekedar mengunjungi saudaranya. Waktu tinggal Dina yang seminggu itu dimanfaatkan Satria dengan sebaik mungkin mendekati Dina hingga cinta pun tidak bertepuk sebelah tangan. Kemudian setelah itu jalinan kasih pun di lakukan jarak jauh, Dina kembali ke Malang. hampir tiap waktu senggan Satria menghubungi Dina, demikian Satria sering menerima sms curahan hati Dina. Dua bulan berikutnya sebuah insiden yang tidak menyenangkan menimpa Satria, saat pulang kerja malam hari sepeda motor yang di kendarainya terserempet truk, ia tak bisa mengendalikan kemudi hingga akhirnya nyungsep di selokan. Meski lukanya tak parah, hanya lecet pada siku tangan dan sedikit pendarahan pada daun telinga kirinya tapi telepon genggam yang di bawanya pun terpelanting tak tahu kemana,telepon genggam yang di situ tersimpan no telepon Dina. Dan inilah awal perpisahannya dengan Dina yang akan Satria jelaskan pada Dina.

Tidak ada firasat sebelumnya. Tidak ada bisikan goib. Mujur benar hari itu, si Dina yang dicarinya ia temukan sebelum semua profil habis di telusuri. Dan yang membuat Satria senang kegirangan adalah Dina masih single. Ingin segera ia mengungkapkan kerinduannya pada Dina, kata demi kata ia rangkai, terkadang termenung sebentar sembari mencari inspirasi menghayati lagu-lagu melayu, atau dengan menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuknya. Tiga puluh menit berlalu, edit beberapa kali terjadi, rangkaian kata yang ia inginkan pun tercapai. Tak sabar, segera ia kirimkan pesan itu dengan diawali mengucap basmalah.

Pada hari itu sungguh menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Satria, baru beberapa jam yang lalu suara kerinduannya dikirim, eh ternyata setelah selesai sholat asar, Satria mendapat balasan positif dari Dina. Dalam balasannya Dina mengatakan bahwa ia yakin suatu saat akan ketemu lagi dengan Satria.

Senyuman demi senyuman meluncur dari bibir Satria saat membaca kalimat-kalimat manis dari Dina. Dering telepon di sebelah tak ia gubris, ia tenggelam menghayati suara hati sang kekasih yang ia rindukan. Apalagi perutnya yang teriak-teriak minta diisi, tak membuat perhatiannya beralih. Dengung nyamuk beterbangan di sekelilingnya tak membuat tanganya ingin menepuk. Lagi dan lagi tak bosannya ia membaca surat balasan itu.

Malam harinya mereka berdua chatting. Malam itu bagai hujan deras yang membanjiri bumi hati yang telah lama mendahaga karena kerinduan. Ribuan kata mereka berdua memenuhi layar chatting, tapi kerinduan Satria rasa belum terobati, jemari kedua tangan Satria begitu bergairah menari di atas keyboard membalas. Sampai malam pergi, menyapa pagi, belum juga terjadi klimaks. Namun, suara azan Shubuh menghentikan mereka juga, tetapi sebelum menutup layar chatting, Satria menyatakan sikapnya pada Dina bahwa Satria ingin menikahinya, dan berharap besok ia sudah menerima jawaban. Dina menyanggupi.

Ke esokan harinya seperti biasa, bangun pagi cek status dulu, cek inbox, cek email. Tak ada pesan masuk dari Dina, demikian tak melihat Dina on-line. Hari berikutnya pun juga demikian. Hari berikutnya lagi juga sama. Hingga satu minggu tetap tak ada pesan masuk dari Dina.

Mulai pikiran Satria menerawang, bertanya-tanya, ada apa gerangan? Apakah Dina menolak untuk dinikahi, tapi mengapa tak menjawab saja secara terus terang, pikirnya. prasangka buruk pun merasuki pikirannya. Rasa penasaran membuatnya memutuskan untuk bertandang ke rumah Dina.

Sore hari, Satria mengemasi beberapa potong pakaian kedalam rangsel. Sore itu juga Satria hendak berangkat ke Malang. Sebelum pergi, Satria menceritakan siapa Dina kepada ibunya, dan mengenai maksudnya. Sebagai oleh-oleh, ada kue kering khas Bali yang ia beli dari dari pasar tradisional paginya, kue kesukaan Dina. Ia meminta tolong pada ibunya untuk memintakan koran bekas pada tetangganya sebagai alas pembungkus kue tersebut dalam kardus.

Lutut Satria seperti tiada mampu lagi menyangga tubuhnya, tangannya gemetar, terduduk lemas di anak tangga dan tersandar pada pagar tangga, seakan tidak percaya atas apa yang ia baca pada koran bekas yang ibunya dapat dari tetangganya itu. Koran yang terbit enam hari lalu itu memberitakan bahwa telah terjadi tabrak lari dengan korban seorang wanita, Dina, 27 tahun, bertempat tinggal di Blitar jalan …….tewas di tempat karna terjadi pendarahan hebat di kepala. Pelaku masih dalam pengejaran polisi. Berdasarkan penuturan temannya yang tertulis di koran itu, bahwa Dina hendak mengirim email untuk kekasihnya di Bali setelah makan siang bersama teman-teman sekantornya. Dan ketika menuju warnet di seberang jalan depan kantornya itulah Dina tertabrak. Alamat di koran itu sama persis dengan yang Dina kasih lewat chatting beberap hari yang lalu.

Kerinduan hanya tinggal kerinduan, lelahnya hati menahan kerinduan setahun, bertambah deritanya dengan kehilangan. Tak mudah mengikhlaskan kepergian sang kekasih. “ ya Tuhan, kenapa tak Engkau ijinkan aku sekedar memegang tangannya, kenapa Engkau ambil dia sebelum kerinduanku ini mereda…” keluh satria di sujud sholat maghrib sore itu, air matanya pun tak mampu ia tahan membasahi sajadah.

Terekspresi kehampaan yang menyelimuti hati dalam bentuk puisi. Tanpa di edit lagi, puisi itu Satria tag untuk Dina seorang, disetting untuk tak menerima komentar dari siapa pun.

Pertemuan tanpa rencana
Hatiku terkulai tiada berdaya
Akan pesonamu yang menggelora
Dari ujung kaki hingga kepala

Wangi bunga jejak langkahmu
Sejuk embun nafasmu terhembus
Tatapan mata menarik senyuman
Bila berucap hati pun tentram

Mata ini tiada bisa terpejam nyaman
Meski lelah melambaikan tangan
kolbuku gelisah pilu
Kepalaku penuh sejuta tanya
Bila ceritamu terbentur terhalang
Karna kita dua jiwa satu nyawa
Karna hati telah saling bertaut memanggut

Belum sampai kita berpuisi
Nyala lilin telah mati
Keadaan merenggut keinginan
Mataku buta menuntun pena merangkai cerita
Tak mudah mengubah arah
Kini aku hampa
Entah akan berapa lama…


Malam harinya, ditemani desis angin membelai celah-celah jendela, dan sesekali angin itu menyapa raganya memberi kesegaran yang seolah-olah mengerti apa yang terjadi pada Satria. Dalam kamarnya yang sempit bertembok cat biru cerah, terduduk Satria di pojok kamarnya di bawah jendela. Pikirannya digelanyuti rasa bersalah, hatinya merintih perih kehilangan. Lama ia terdiam di pojok itu, hingga akhirnya tertidur seperti anak-anak jalanan tidur di emperan toko.

semburan cahaya menyilaukan mata Satria, ia terbangun, rupanya ibunya menyalakan lampu kamarnya. “ nak…kesedihanmu tak akan membuatnya kembali, justru kesedihanmu akan membuatnya tersiksa. Yang ia butuhkan sekarang adalah keikhlasan dan doa. Ayo kita sholat shubuh, mendoakannya ! “ sang ibu memberi nasehat sembari mengelus-elus kepala Satria.

Duduk di teras, pagi itu, disaksikan sang mentari, dinaungi langit cerah, diselimuti udara beraroma embun, disapa kicaun burung-burung, Satria termenung, hati dan pikirannya beradu, bercumbu, lama, melelahkan hingga melahirkan komitmen,sikap yang ksatria:

tentang kemarin,
tiada kubiarkan menidurkanku dalam kecemasan
memerihkan luka-luka
menghilangankan kesempatanku

hari ini,saat ini
aku punya banyak kesempatan
menggapai mimpi-mimpi
berkarya nyata
beribadah

tentang esok,
esok adalah misteri
tiada yang tahu pasti
kecuali Illahi
tiada kubiarkan gelisah merasuk hati

untuk esok,
kubulatkan tekat hingga tiada bercelah
kusiapkan diri menyambut pagi
akan kukalahkan siang
hingga ia lelah menyerah
memeluk malam


di hampiri ibunya yang sedang memasak di dapur.” Bu…habis ini, kita kerumah arini. Aku tak boleh membuat ia menunggu keputusanku terlalu lama. Aku siap untuk menikahinya bu.”



Blog EntryDec 4, '09 1:22 AM
for everyone


tentang kemarin,
tiada kubiarkan menidurkanku dalam kecemasan
memerihkan luka-luka
menghilangankan kesempatanku

hari ini,saat ini
aku punya banyak kesempatan
menggapai mimpi-mimpi
berkarya nyata
beribadah

tentang esok,
esok adalah misteri
tiada yang tahu pasti
kecuali Illahi
tiada kubiarkan gelisah merasuk hati

untuk esok,
kubulatkan tekat hingga tiada bercelah
kusiapkan diri menyambut pagi
akan kukalahkan siang
hingga ia lelah menyerah
memeluk malam



Pages:123